Tuesday, 14 October 2014

Angkatan Periode 45



Tahun 1942-1945 bangsa Indonesia dijajah bangsa Jepang. Oleh Jepang, pada masa itu penggunaan bahasa Belanda dilarang dan penggunaan bahasa Indonesia digalakkan. Dalam kaitanya di dunia sastra, sastra Indonesia menjadi semakin marak. Olh Jpang pula pengarang dan seniman dikumpulkan di Kantor Pusat kebudayaan yang dinamakan Keimin Bunka Shidosho.
Hal itu sebenarnya tak lepas dari niatan Jepang untuk menguasai Asia. Pengarang dan seniman dikerahkan untuk membuat segala sesuatu yang mendukung progam Jepang. Dengan kata lain, hasil karya seniman dapat dikatakan sebagai hasil pesanan. Itu berarti, karya seniman diharapkan dapat membangkitkan semangat dan kepercayaan rakyat Indonesia kepada keunggulan bangsa Jepang.
Angkatan 45 pertama kali dikemukakan oleh Rosihan Anwar di majalah Siasat pada tanggal 9 Januari 1949. Angkatan 45 disebut juga sebagai Angkatan Kemerdekaan. Selain itu ada juga istilah lain yang digunakan yaitu, Angkatan Chairil Anwar, Angkatan Perang, Angkatan Sesudah Perang, Angkatan Sesudah Pujangga Baru, Generasi Gelanggang, Angkatan Pembebasan.
Menurut Pradopo, angkatan sastra 45 bercirikan :
  1. Gaya Realisme, Simbolik, Ekspresionisme
  2. Individualisme terlihat lebih menonjol
  3. Filsafat Ekstensialisme mulai dikenal
  4. Masalah Kemanusiaan yang umum, misalnya Hak Asasi Manusia.
Berikut ini dapat kita perhatikan Pengarang-pengarang angkatan 45 dan karya-karyanya sebagaimana di bawah ini :
Karya – karya Chairil Anwar antara lain : Kerikil Tajam dan yang Terhempas dan yang Putus (1949, kumpulan puisi), Deru Campur Debu (1949, kumpulan puisi), Tiga Menguak Takdir (1950, kumpulan puisi bersama Rivai Apin, dan Asrul Sani)
Karya – karya Asrul Sani antaralain : Bola Lampu (cerpen), Sahabat Saya Cordiaz (cerpen), Si Penyair Belum Pulang (cerpen), Perumahan Bagi Fadjria Novari (cerpen), Dari Suatu Masa Dari Suatu Tempat (cerpen)
Karya – karya Idrus antara lain :Dari Ava Maria ke Jalan Lain ke Roma (1948, kumpulan cerpen), Keluarga Surono (1948, drama), Perempuan dan Kebangsaan (1949, roman autobiogrfis), Aki (1950), Dengan mata Terbuka (1961), Hati Nurani manusia (1963)
Karya – karya Usmar Ismail antaralain : Puntung Berasap (1949, kumpulan puisi), Sedih dan Gembira (1949, kumpulan drama), berisi: “Api”, “Liburan Seniman”, dan “Citra”. Mutiara dari Nusa Laut (drama), Mekar Melati (drama), Tempat yang Kosong (drama), “Ayahku Pulang” merupakan drama saduran dari “Chichi Kaeru”karangan Kikuchi Kwan. “Ayahku Pulang” kemudian dibuat film dengan judul “Dosa Tak Berampun”.
Karya – karya Amal Hamzah antaralain : Gitanyali (1947), Pembebasan Pertama (1949, terjemahan), kp. Buku dan Penulis (1950, kritik)
Karya – karya Rosihan Anwar antaralain : Raja Kecil, Bajak laut di Selat Malaka (1967), Radio Masyarakat (cerpen).
Karya – karya Achdiat K. Mihardja antaralain : Atheis (1948, roman), Polemik Kebudayaan (1948), Bentrokan Dalam Asrama (1952, drama), Keretakan dan Ketegangan (1956, kumpulan cerpen dan drama sebabak), Kesan dan Kenangan (1961, kumpulan  cerpen)
Karya – karya Aoh K Hadimaja antaralain : Zahra (1952, kumpulan puisi), Manusia dan Tanahnya (1952, kumpulan cerpen & reportasi literree), Beberapa Paham angkatan ’45 (1952, kumpulan esai)
Karya – karya M. Balfas  antaralain : Lingkaran – Lingkaran Retak (1952, kumpulan ccerpen), Retak (1964, roman)
Karya – karya Rusman Sutiasumarga antaralain : Yang Terempas dan Yang Terkandas (1951, kumplan cerpen), Korban Romantik (1964, kumpulan cerpan), Kalung (1964, kumpulan cerpan)
Karya – karya Trisno Sumardjo antaralain : Kata Hati dn Perbuatan (1952, kumpulan puisi cerpen drama), Cinta Teruna (1953, drama), Rumah Raja (1957, kumpulan cerpen), Daun Kering (1962, kumpulan cerpen), Wajah – Wajah yang Berubah (1968, kumpulan cerpen), Silhuet (1966, kumpulan puisi), Hamlet (1950, terjemahan), Macbeth (1950, terjemahan dari Saudagar Venesia), Manasuka (1952, terjmahan dari Impian di Tengah Musim), Romeo dan Julia (1955, terjemahan), Antonius dan Cleopatra (1963, terjemahan), Dongeng – Dongeng Perumpamaan (1959), Dokter Zhivago (1960, terjemahan)
Karya – karya MH. Rustandi Kartakusuma antaralain : Prabu dan Puteri (1950, kumpulan drama), Merah Semua Putih Semua (1961), Rekaman Dari Tujuh Daerah (1951)
Karya – karya Mohammad Ali antaralain : Hitam dan Putih (1959, kumpulan puisi cerpen, drama), Lima Tragedi (1954), Siksa dan Bayangan (1955), Persetujuan Dengan Iblis (1955), Kubur Tak Bertanda (1955)
Karya – karya Harjadi S. Hartowardojo antaralain : Luka Bayang (kumpulan puisi cerpen, drama), Kumpulan Sajak – Sajak 1950-1953 (1964, kumpulan puisi), Munafik
Karya – karya Suwarsih Djojopuspito antaralain : Buiten Het gareel (Di Luar Garis) (1941, roman), Tujuh Cerita Pendek (1951, kumpulan cerpen), Empat Serangkai (1954, kumpulan cerpen)
Karya – karya S. Rukiah antaralain : Tandus (1952, kumpulan puisi cerpen), Kejatuhan Dan Hati (1950, roman)
Karya – karya Abu Hanifah antaralain : Kumpulan Drama Taufan Di Atas Asia (yang berisi : “Taufan di Atas Asia”, “Intelek Istimewa”, “Dewi Reni”, dan “Rogaya”), Dokter Rimbu (1952)
Abu Hanifah menggunakan nama samara El Hakim dalam setiap tulisannya. Abu Hanifah juga merupakan kakak dari Usmar Ismail.
Karya – karya M.S. Ashar antaralain : Bunglon (Puisi)
Karya – karya kotot Sukardi antaralain : Bende Matatam
Karya – karya Inu Kertapati antaralain : Sumping Sureng Pati
Karya – karya Walujati antaralain : Berpisah (Puisi)
Karya – karya St. Nuraini antaralain : Sajak Buat Anak Yang Takkan Lahir (puisi)
Karya – karya Maria Amin antaralain : Tengoklah Dunia Sana (prosa lirik)
Karya – karya Narjamsu antaralain : Terawang (1948, cerpen, di majalah Gema Suasana)
Nah demikian kiranya beberapa sastrawan dan karyanya yang termasuk dalam angkatan Balai Pustaka. Mohon maaf jika ada kesalahan-kesalahan. Oleh Karena itu kritik dan saran yang membangun diharapkan dari para sobat blogger guna menambah dan memajukan sastra Indonesia. Semoga tulisan ini bermanfaat…
Salam Sastra

Modifikasi tema bbm dengan berbagai macam bbm mod keren

Hai gaeesss… setelah sekian kali memposting tentang postingan yang agak serius, kali ini akan saya posting artikel yang bisa menambah gairah para sahabat semua.
Siapa yang punya BBM…? Yupss.. sebagian (mayoritas) warga Indonesia pasti tidak asing dengan aplikasi yang satu ini. Bahkan seandainya kita tidak punya bbm kadang merasa minder atau kudet, xixixi. Tetapi ketika sering menggunakan bbm kadang juga merasa jenuh. Hal ini kadang dikarena tema dalam bbm yang cenderung default (standart).
Akan tetapi saat ini rasa jenuh akan sedikit terobati dengan aplikasi bbm mod supaya thema dalam waktu kita chat atau menggunakan bbm lebih berwarna (pelangi keleess) hahaha….
Untuk pemasangan tema bbm android emang sedikit ribet, karena sobat harus menguninstal aplikasi bbm yang sudah terinstal dalam handphone android sobat. Lalu setelah itu download aplikasi bbm mod lalu install aplikasi tersebut. Untuk lebih jelasnya perhatikan langkah berikut :
  1. Download file apk. Bbm mod yang sobat inginkan
  2. Uninstall aplikasi BBM yang sudah terpasang sebelumnya. Tapi sebagai catatan, pastikan sobat harus ingat ID BBM dan Password BBM. (jangan Uninstal BBM yang sudah terpasang jika sobat lupa ID dan Pass)
  3. Buka file BBM mod apk. Yang sudah didonload tadi, lalu Instal BBm mod apk. tersebut.
  4. Kemudian lakukan Sign In dengan memasukkan ID BBM dan Password sobat
  5. Selesai … taraaaaaaaa… lihat apa yang terjadi dengan tampilan aplikasi BBM anda.
Nah untuk yang menyukai aplikasi ini silahkan langsung di sedoott aja yah xixixi …

Okeeyy cukup segitu dulu, nanti kalo ada yang terbaru insyaallah diupdate kembali. Semoga artikel ini membantu =D
Happy blogging ya gaeesss . . . =D

Angkatan Balai Pustaka



        Angkatan Balai Pustaka merupkan salah satu angkatan dalam periodesasi sastra yang ada di Indonesia. Angkatan ini berkisar pada tahun 1920 dimana nama angkatan ini yang tak lepas dari riwayat pendirian Balai Pustaka. Dan pendirian balai pustaka teersebut tak lepas dari adanya pembangunan sekolah sekolah bumi putera.
Belanda pada dasarnya merupakan Negara yang melaksanakan politik Cultuurstelsel. Akan tetapi, system tersebut tidak berjalan di Indonesia. Maka sebagai gantinya Belanda menerapkan politik etis / balai jasa. Slogan politik etis itu yakni, Pendidikan, Irigasi, dan Emigrasi. Oleh karena itu, mulai pada tahun 1900 pemerintah Belanda banyak mendirikan Sekolah berorientasi Barat.
Ada empat prinsip pendidikan yang dilaksanakan pemerintahan Kolonial. Satu, pemerintah tidak memihak salah satu agama tertentu. Dua, upaya anak didik agar dapat mencari penghidupan atau pekerjaan demi kepentingan kolonial. Tiga, system disusun sesuai dengan adanya perbedaan lapisan sosial yang terdapat dalam masyarakat Hindia, khususnya yang ada di pulau Jawa. Empat, pendidikan diukur dan diarahkan guna membentuk golongan elit sosial yang dapat dipakai sebagai alat kepentingan politik dan ekonomi Belanda.
Pada masa itu (abad 19) pemerintah Belanda banyak membangun sekolah Bumi Putera. Dengan tujuan untuk mendidik pegawai rendahan yang dibutuhkan oleh pemerintah Belanda. Akan tetapi harapan pemerintahan kolonial tak sejalan dengan yang diharapkan. Semakin banyaknya masyarakat yang mampu membaca dan menulis, pemerintah Belanda merasa khawatir akan terjadinya perlawanan dari Pribumi. Maka pada tahun 1908, pemerintah kolonial mendirikan Comissie voor de Inlandsche School en Volkslectuur (Komisi untuk Sekolah-Sekolah Bumi putera dan Bacaan Rakyat). Komisi ini diketuai oleh Dr. G.A.J. Hazeu dan sejak1917 berubah menjadi Bacaan Rakyat (Kantor voor de Volkslektuur) atau yang lebih dikenal dengan nama Balai Pustaka.
Menurut Situmorang dalam bukunya Sejarah Sastra Indonesia 1 (1980: 32) tugas Balai pustaka meliputi : mengumpulkan serta mencatat semua cerita rakyat / dongeng rakyat yang hidup di masyarakat; menerbitkan cerita yang telah dikumpulkan; menerjemahkan cerita yang berasal dari luar negeri yang tidak bertentangan dengan pemerintahan Hindia Belanda; menerbitkan majalah untuk bacaan masyarakat; menyelenggarakan perustakaan; menerbitkan karanagan asli orang Hindia; membimbing pengarang Hindia dalam pengertian memberi kesempatan untuk menulis dan dorongan demi kemajuan di bidang kesusastraan.
Menurut Pradopo (1995: 25-26) periode Balai Pustaka mempunyai cirri -  cirri : (1) Bersifat Didaktis, maksudnya pencitraanya ditujukan kepada pembaca untuk member nasihat. (2) Permasalahan Berupa Adat, terutama adat kawin paksa. (3) Adanya pertentangan antara kaum tua (pandangan adat lama) dengan kaum muda (paham modern). (4) Masalah Kedaerahan, belum bersifat kebangsaan, (5) Gaya Bahasa Klise, pepatah, atau peribahasa. (6) Banyak Digresi, yaitu sisipan peristiwa yang tidak langsung berhubungan dengan inti cerita, misalnya tentang adat, dongeng, syair, atau pantun nasihat. (7) Bercorak Romantis, maksudnya melarikan diri dari maalah kehidupan sehari-hari. 
Azab dan Sengsara (1919) karya Merari Siregar merupakan novel atau roman pertama Indonesia. Novel ini ditokohi oleh Mariamin, Aminudin, dan Kasibun. Gaya novel ini masih sama dengan hikayat lama, yaitu di setiap kesempatan para pelaku memberikan nasihat yang panjang lebar.
Medua Teruna karya M Kasim memiliki warna lain karena ada unsur humor. Novel ini di tokohi oleh Marah Kamil yang tergila-gila pada Ani. Gaya novel ini masih terpengaruh hikayat dimana sebelum tokoh berhasil menikahi gadis pujaannya, ia harus melewati berbagai macam halangan dan rintangan.
Hal serupa juga terjadi pada novel karya Marh Rusli yaitu Siti Nurbaya. Novel ini bercerita tentang kasih yang tak sampai dimana novel ini ditokohi oleh Siti Nurbaya, Samsul Bachri, dan Datuk Meringgih.
 Jika roman atau novel sebelumnya mengisahkan perkawinan sedaerah, maka dalam novel Salah Asuhan karya Abdul Muis bercerita tentang perkawinan antardaerah bahkan bisa disebut perkawinan antar bangsa. Tokoh dalam novel ini adalah Hanafi dan Corrie.
Pengarang Adinegoro dalam novelnya Darah Muda dan Asmara Jaya menceritakan tentang kaum muda dan kaum tua, di mana pengarang ini memenangkan kaum muda dalam permasalahan (ending). Nurdin, tokoh utama dalam Darah Muda tidak menikah dengan gadis pilihan orangtuanya, akan tetapi dia menikahi Rukmini, gadis idamannya.
Drama Bebasari karya Rustam Effendi dianggap penting karena merupakan drama (drama bersajak) berbahasa Indonesia pertama yang diterbitkan. Dalam “Bukan Beta Bijak Berperi”, Rustam Effendi mulai menampakkan ekspresi jiwa.
Pada sajak “Tanah Air” (dimuat dalam Jong Sumatra tahun 1920) yang dimaksud Moh. Yamin adalah Sumatra. Akan tetapi pada tahun 1928 dalam mumpulan sajaknya Indonesia, Tumpah Darahku , moh. Yamin tidak lagi hanya berbicara tentang Sumatra melainkan Indonesia.
Berikut ini dapat kita perhatikan pengarang angkatan balai pustaka dan karya-karyanya sebagaimana di bawah ini :
Karya – karya Merari Siregar antara lain : Cerita Si Jamin dan Si Johan (1918), Azab dan Sengsara (1920), Binasa Karena Gadis Priangan (1931), Cerita Tentng Busuk dan Wanginya Kota Betawi (1924), Cinta dan Hawa Nafsu.
Karya – karya Marah Rusli antara lain : Siti Nurbaya (1922, Novel), La Hami (1952, Novel), Anak dan Kemenakan (1956, Novel), Memang Jodoh (Otobiografi), Tesna Zahera (roman)
Karya – karya Abdul Muis antara lain : Don Kisot (1923, terjemahan), Tom Sawyer Anak Amerika (1928,terjemahan), Sebatang Kara (1922, terjemahan), Tanah Aairku (1950, terjemahan), Salah Asuhan (1928, Novel), Pertemuan Jodoh (1933, Novel), Surapati (1950, novel), Robert Anak Surapati (1953, Novel)
Karya – karya Nur Sutan Iskandar antara lain : Apa Dayaku Karan Aku Perempuan (1922, novel), Cinta yang Membaa Maut (1926, novel), Salajh Pilih (1928, novel), Karena Mertua (1932, novel), Tuba Dibalas Dengan Air susu (1933, novel), Hulubalang Raja (1934, novel), Katak Hendak Menjadi Lembu (1935, novel), Neraka Dunia (1937, novl)
Karya – karya Moh. Yamin antara lain : Tanah Air (1922, kumpulan puisi), Indonesia Tumpah Darah (1928, kumpulan puisi), Kalau Dewi Tara Sudah Berkata (1934, drama), Ken Arok dan Ken Dedes (1934, drama)
Karya – karya Rustam Effendi antara lain : Bebasari (1924, Drama), Percikan Permenungan (1926, kumpulan puisi).
Tulis Sutan Sati dengan karyanya Tak Disangka (1923), Sengsara Membawa Nikmat (1928), Syair Rosina (1933), Tjerita Si Umbut Muda (1935), Tidak Membalas Guna, Memutuskan Pertalian (1978), Sabai Nan Aluih (1954, cerita minangkabau lama)
Nah demikian kiranya beberapa sastrawan dan karyanya yang termasuk dalam angkatan Balai Pustaka. Mohon maaf jika ada kesalahan-kesalahan. Oleh Karena itu kritik dan saran yang membangun diharapkan dari para sobat blogger guna menambah dan memajukan sastra Indonesia. Semoga tulisan ini bermanfaat…
Salam Sastra

Wednesday, 8 October 2014

sastrawan dan karyanya dalam Angkatan Pujangga Baru

Angkatan pujangga Baru dapat dikatakan ada setelah Poedjangga Baroe  terbit pertama kali pada tahun 1933. Poedjangga Baroe dimotori oleh 3A, yakni Sutan Takdir Alisyahbana (STA), Amir Hamzah, Armijn Pane. Akan tetapi sempat terjadi polemik antara STA dengan Sanusi Pane dkk. Dimana polemik tersebut menyangkut atau berkisar tentang kebudayaan Indonesia.
Poedjangga Baroe pertama kali terbit mempunyai motto : majalah kesusastraan dan bahasa serta kebudayaan umum. Sejak tahun 1935 motto tersebut berubah menjadi : pembawa semangat baru dalam kesustran, seni, kebudayaan dan social masyarakat umum. Akan tetapi motto Poedjangga Baroe berubah lagi padda tahun 1936 menjadi : pembimbing semangat baru yang dinamis untuk membentuk kebudayaan persatuan Indonesia.
Angkatan pujngga Baru terpengaruh oleh aliran romantik gerakan 80 Belanda. Aliran romantic ini mengagungkan manusia yang tinggal di alam semesta, seperti pulau atau desa terpencil, yang belum terjamah kehidupan/peradaban modern.
Angkatan Pujangga Baru menurut Pradopo setidaknya berciri sebagai berikut :
  1. Pada Puisi menggunakan kata-kata pujangga atau bahasa nan indah.
  2. Ide Nasionalisme dan Keagaman lebih menonjol.
  3. Sifat didaktis masih terlihat.
  4. Beralur erat, malsudnya tidak banyak digresi seperti roman pada angkatan balai pustaka.
Berikut ini dapat kita perhatikan pengarang angkatan pujangga baru dan karya-karyanya sebagaimana di bawah ini :
Karya – karya Sultan Takdir Alisyahbana antara lain : Tak Putus Dirundung Malang (1929, novel), Dian yang Tak Kunjung Pada (1932, novel), Tebaran Mega (1935, kumpulan puisi), Layar Terkembang (1936, novel), Anak Perawan Di Sarang Penyamun  (1940, novel), Puisi Lama (1946, bunga rampai), Puisi Baru (1946, bunga rampai), Grota Azzura (tiga jilid, 1970 & 1971, novel), Lagu Pemacu Ombak (1978, kumpulan puisi), Sajak Nyanyi Sunyi (1978, telaah sastra), Kalah dan Menang (1978, novel)
Layar terkembang merupakan novel yang terkenal pada masa itu. Roman / novel ini bertokoh Yusuf, Tuti, dan Maria. Karena Alisyahbana jugalah (melalui Poejangga Baru) maka diadakan Kongres Bahasa Indonesia pertama di Solo tahun 1938.
Karya – karya Armijn Pane antara lain : JIwa Berjiwa (1939, kumpulan puisi), Belenggu (1940, novel), Kisah Antara Manusia (1953, kumpulan cerpen), Jinak-Jinak Merpati (1953, kumpulan drama), Gamelan Jiwa (1960, kumpulan puisi)
Belenggu merupakan novel karya Armijn Pane yang juga cukup penting. Novel ini bertokoh dokter Sukartno, Tini dan yah. Novel ini terasa baru karena sudah melukiskan gejala kejiwaan (stream Of Conciousnes) dan beralur terbuka dimana penyelesaian diserahhkan kepada pembaca.
Karya – karya Amir Hamzah antara lain : Nyanyi Sunyi (1937, kumpulan puisi), Buah Rindu (1941, kumpulan puisi), Sastra Melayu dan Raja-Rajanya (1942, studi sastra), Bhagawat Gita (1933, terjemahan, kumpulan puisi), Setanggi Timur (1939, terjemahan kumpulan puisi)
Karya – karya J.  E. Tatengkeng antara lain : Rindu Dendam (1934, kumpulan puisi)
Jika Amir Hamzah merupakan penyair religius (Islam), J.E. Tatengkeng adalah penyair religius (kristen)
Karya – karya Sanusi Pane antara lain : Pancaran Cinta (1926), Puspa Mega (1927, kumpulan puisi), Airlangga (1928, drama), Madah Kelana (1931, kumpulan puisi), Kertajaya (1932, drama), Sandyakala Ning Majapahit (1933, drama), Manusia Baru (1940, drama), Gamelan Jiwa (1960, kumpulan puisi)
Karya – karya Hamka antara lain : Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938, novel), Merantau Ke Deli (1938, novel), Tenggelamnya Kapal Van Der Wijk (1938, novel), Tuan Dirktur (1939, novel), Di dalam Lembah Kehidupan (1941, kumpulan cerpen), Karena Fitnah (1942, novel), Dijemput Mamaknya (1949, novel)
Pada saat itu umumnya drama berbentuk dram closet, yitu drama unutk dibaca tidak untuk dipentaskan. Di tahun 1962, Tenggelamnya Kapal Van Der wijk karya Hamka dihebohkan sebagai plagiat dari Sous Les Tilleuls karya Alphonse kart (Perancis). Novel Sous Les Tilleuls (Di Bawah Naungan Pohon Tila) tadi disadur ke dalam bahasa Arab oleh Mustafa Luthfi Al-Manfaluthi menjadi Majdulin. Majdulin kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia oleh A.S. Alatas dengan judul Magdalena (1963).
Karya – karya Aman Datuk Madjoindo antaraa lain : Syair Si Banso urai (1931, syair), Si Cebol Rindukan Bulan (1932, novel), Menembus Dosa (1932, novel), Rusmala Dewi (1934, novel), Si Dul Anak Betawi (1956, novel)
Karya – karya I Gusti Nyoman Panji Tisna antaraa lain : Ni Rawit Ceti Penjual Orang (1935, novel), Sukreni Gadis Bali (1935, novel), I Swasta Setahun di Bedahulu (1938, novel)
Karaya – karya M. Kasim antara lain :Muda Teruna (1929, novel), Teman Duduk (1936, kumpulan cerpen)
Karya – karya Suman Hs antara lain : Kasih Tak Terlarai (1929, novel), Percobaan Setia (1931, novel), Mencari Pencuri Anak Perawan (1932, novel), Kawan Bergelut (1938, kumpulan cerpen)
Hamidah dengan kartyanya Kehilangan Mestika (1935)
Selasih dengan karyanya Kalau Tak Untung  (1935)
Adlin Afandi dengan karyanya Sandiwara Gadis Modern (1941)
Sa’adah Alim dengan karyanya Sandiwara Pembalasan (1941)
Nah demikian kiranya beberapa sastrawan dan karyanya yang termasuk dalam angkatan Pujangga Baru. Mohon maaf jika ada kesalahan-kesalahan. Oleh Karena itu kritik dan saran yang membangun diharapkan dari para sobat blogger guna menambah dan memajukan sastra Indonesia. Semoga tulisan ini bermanfaat…
Salam Sastra